Wednesday, October 19, 2011

aPa Yg KoRaNg TaHu TeNtAnG wOnG fEi HuNg?


Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin

Sumber :
Malaysian Community

Monday, June 20, 2011

mAdRaSaH TaRbiYah RaMaDhAn GaSaKaN mEnUjU iMaN

(entry kali ini cuba memberi idea kepada sesiapa sahaja yang ingin mempelbagaikan program dalam bulan Ramadhan. Juga khusus sebagai respon kepada tauke Pasembur Pulau Mutiara yang menginginkan penglibatan pelanggannya dalam sumbangan idea ke arah menyedapkan lagi pasembur yang dijualnya nanti...)


1. Kuliah Motivasi Ramadhan :

Membicarakan tentang sikap berpuasa salafus soleh, membentangkan hadith-hadith fadhail ramadhan, mengupas hikmah berpuasa yang tercatat dalam al-quran, faedah-faedah berkaitan sains, dan seterusnya memberi gambaran jelas tentang natijah yang diperolehi daripada memanfaatkan Ramadhan. Dilaksanakan semasa pelancaran program Madrasah Tarbiyah Ramadhan.

2. Talaqqi al-Quran :

Bukan sekadar tadarrus, bahkan program ini lebih menjurus kearah bimbingan mursyid memperbetulkan bacaan, seterusnya mengupas isi kandungan ayat yang ditalaqqi serta menguji hafazan ayat-ayat lazim berkaitan keimanan, ibadah dan akhlak. Cadangan untuk dilaksanakan seminggu 2 kali. Di fasa akhir Ramadhan, boleh diusahakan Majlis Khatam al-Quran beserta Majlis Ifthar Istimewa.

3. Risalah Ubat Hatiku, Islah Akhlakku :

Risalah menarik berbentuk buku bacaan ringan yang memaparkan kisah hidup idola Islam yang berjaya misalnya Rasulullah s.a.w. dan para sahabat, Sultan Muhammad al-Fateh, Salahuddin al-Ayyubi, Tokoh-tokoh ilmuan Islam yang lain serta mereka yang dikasihi Allah. Juga memaparkan teguran-teguran membina dalam bentuk poster atau karikatur yang menarik. Selain itu, disarankan agar membuka peluang dan ruang bagi sasaran merespon melalui kuiz atau surat luahan rasa yang dilampirkan. Boleh juga memuatkan fadhilat dan kaifiyat amalan-amalan qiamullail.Cadangan untuk dilaksanakan 3 kali mengikut fasa ramadhan.

4. Nur Qalbi :

Lazimkan memasang alunan ayat suci al-Quran dan zikir pada kekerapan luar dari kebiasaan agar sasaran sentiasa menikmatinya sebagai santapan rohani…

5. Saham Akhirat :

Menyediakan tabung untuk melazimkan bersedekah. Tabung ini pada akhirnya akan disedekahkan kepada badan amal dan rumah kebajikan yang terpilih. Sebelum tabung ini dilancarkan, sesi penerangan khas berkaitan sedekah / infaq pada jalan Allah halus dilaksanakan agar program ini lebih berkesan. 2 kaedah yang digunakan iaitu tabung statik dan tabung bergerak setiap hari.

6. Malam Muhadharah :

Program hiburan sambil mendidik jiwa ini membuka peluang kepada sasaran menyerlahkan bakat terpendam melalui apa jua bentuk kesenian Islam seperti bersajak, nasyid, pentomin dan sebagainya dengan tema, Ramadhan Merawat Hati dan Akhlakku’. Persediaannya pada awal Ramadhan dan pelaksanaannya sama ada di tengah atau di hujung Ramadhan.

7. Ramadhan Sentuhan Qalbu :

Motivasi pecutan fasa akhir Ramadhan ini dilakukan bagi menyentak hati dan jiwa yang masih belum mahu berubah walaupun telah melalui fasa awal dan pertengahan Ramadhan. Sebuah forum beremosi dilaksanakan bagi menggasak emosi sasaran agar segera berubah dan menjadikan Ramadhan kali ini sebagai ‘tuning point’ dalam perubahan iman, hati dan amalan zahir.

8. Menerpa Lailatul Qadr :

Iktikaf dan memperhebatkan ibadah pada 10 malam terakhir adalah amalan yang amat dicintai oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabat serta orang-orang yang soleh. Demi meraih redha Allah dalam malam Lailatul Qadr, maka program iktikaf ini dilaksanakan sebagai pecutan akhir dalam fasa akhir bulan Ramadhan. Antara ibadah yang dilaksanakan ialah solat-solat sunat, membaca al-Quran dan melazimi berzikir.

9. Dapur Ramadhan :

Setelah melalui santapan-santapan rohani untuk diri sendiri, sampailah masanya diketengahkan program untuk kemasyarakatan dan ukhwah sesama sasaran. Cadangan memasak secara bergotong-royang ini dilaksanakan secara berkumpulan dan diketuai oleh sesama sasaran. Program ini juga bertujuan mewujudkan rasa hormat dan kerjasama sesama mereka.

10. Inilah Madrasah Tarbiyah Ramadhan :

Ia bukanlah sebuah program khusus, akan tetapi ia merangkumi keseluruhan 9 program yang dicadangkan sebelum ini sebagai suatu pendekatan membaik pulih sasaran yang semakin hari semakin tersimpang daripada jalan kebenaran bak panah yang tersasar. Rangkuman program ini harus dijana dan digerakkan oleh sasaran sendiri. Di sinilah yang akan mengajar mereka supaya menjiwai semangat 'islah nafsaka wad'u ghairaka'. Oleh itu, penulis berharap ia mendapat perhatian dan dapat dilaksanakan dengan sebaik mungkin demi melihat generasi kini tidak terus rosak dipukul taufan kebatilan.

Al-Faqir Ila Rabbih,

Nurulimanz al-Binanji